BAB 2 : DOMINASI SISTEM TONAL DALAM SEJARAH MUSIK KLASIK

BAB 2

DOMINASI SISTEM TONAL DALAM SEJARAH MUSIK KLASIK

Musik klasik yang hidup pada masa sekarang telah berkembang kepada bentuk-bentuk kompleks dan sukar dideteksi. Perkembangan tersebut ternyata memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan unik. Mungkin tidak banyak orang yang memahami bahwa sejarah awal musik klasik tidak hanya memiliki hubungan latar belakang dengan konsep-­konsep filosofis namun juga dengan konsep-konsep bilangan. Konsep tersebut tidak hanya menjadi landasan pengembangan musik namun juga estetika secara umum, estetika musik, dan bahkan juga dasar pijakan bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern. Konsep bilangan dasar Pythagoras (abad ke-6 SM), tetraktys, yang menyangkut perbandingan tersebut kemudian mengalami perkembangan berabad­abad, mencapai kesempurnaan, mengalami eksplorasi, hingga akhirnya dianggap usang dengan ditemukannya konsep-konsep baru yang tidak tergantung dari konsep dasar tersebut. Sebelum memahami perkembangan musik klasik secara lebih rinci, terlebih dahulu dalam bab ini akan ditinjau secara umum perkiraan asal mula musik, evolusi teori awal sistem diatonis, dominasi sistem diatonis.

2.1. Perkiraan Awal Mula Musik

Untuk memperkirakan asal mula keberadaan musik, pada mulanya para ahli menggunakan teori-teori antropologi klasik, khususnya teori evolusi kebudayaan. Walaupun dalam beberapa hal teori evolusi kebudayaan mendapat kecaman sejak berkembangnya kritik tajam terhadap teori evolusi perkembangan manusia sejak masa purba, namun hingga saat ini masih tetap digunakan untuk beberapa keperluan studi sejarah musik. Sehubungan dengan itu sebelum membahas perkiraan awal mula musik maka terlebih dahulu akan dijelaskan dasar-dasar pengetahuan teori evolusi.

2.1.1. Landasan Teoretik Rekonstruksi Sejarah Musik

Teori evolusi mulanya dikembangkan dalam Biologi oleh Charles Darwin (1809-1882) dalam The Origin of Species (1859), kemudian menjadi konsep evolusi sosial universal. Pada paruh kedua abad ke-19, teori ini telah mempengaruhi pemikiran para cendekiawan dari berbagai bidang ilmu sosial seperti untuk menyelidiki asal mula kelompok keluarga, negara, dan religi. Teori evolusi sosial memandang bahwa segala sesuatu dalam kehidupan manusia telah berkembang dengan lambat dari tingkat-tingkat yang sederhana hingga kompleks (Koentjaraningrat, 1987: 22-31).

Pencetus tokoh evolusi sosial universal ialah Herbert Spencer dalam The Principle of Sociology (1876) yang berpandangan bahwa kebudayaan mnanusia telah dan akan berkembang melalui tingkat-tingkat evolusi yang berbeda dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain. Tokoh lain yang mengikutinya ialah Lewis H. Morgan (1818-1918) dalam Ancient Society (1877) yang menggambarkan proses evolusi masyarakat manusia melalui tiga tingkat evolusi universal yang meliputi jaman sebelum manusia mengenal keramik (savagery), jaman keramik (masa babarism), dan jaman ketika orang mulai menulis (sivilisasi) Lowie 1938: 56). Dua tahap pertama masing-masing terbagi menjadi tingkat rendah, menengah, dan tinggi.

Teori Morgan tersebut dijabarkan oleh Koentjaraningrat menjadi Jaman: Liar Tua (sejak manusia pertama hingga penemuan api), Liar Madya (hingga penggunaan busur-panah, Liar Muda (hingga pembuatan tembikar), Barbar Tua (hingga bercocok tanam dan berternak), Barbar Madya (hingga pembuatan benda-benda logam), Barbar Muda (hingga mengenal tulisan), Peradaban Purba, dan Peradaban Masa Kini (Koentjaraningrat 1987: 44-45).

Pada saat ini tentu saja teori-teori tersebut telah dibantah oleh teori-teori baru. Walaupun demikian kerangka berpikir evolusi tersebut ternyata juga bermanfaat dalam merekonstruksi sejarah musik walaupun tidak bisa dijamin keakuratannya. Teori ini di antaranya digunakan untuk merekonstruksi sejarah alat musik; seperti yang digunakan oleh Summerfield (1982) dan Grinfeld (1969) tentang evolusi alat musik gitar dari sejak tahun 1300 SM hingga kini. Upaya yang serupa tentunya juga dilakukan untuk merekonstruksi instrumen-instrumen lain seperti biola, piano, dan sebagainya, yang merupakan alat musik berdawai.

2.1.2. Dugaan Permulaan Musik

Tak seorangpun mengetahui kapan orang mulai membuat musik. Boleh jadi secara alami musik sudah mulai dimainkan ketika pertama kali manusia hadir di muka bumi ini. Tampaknya bagi masyarakat primitif musik merupakan cara alami untuk mengekspresikan emosi-emosi yang mendasar seperti bahagia, marah, cinta, dan juga rasa kagum terhadap hal-hal ghaib atau kekuatan alami.

Sebagian dari musik dicipta untuk mengiringi tari-tarian ritual atau orang bekerja. Ketukan kaki dan tepukan tangan diduga merupakan instrumen pertama mereka. Secara bertahap kemudian orang mulai menemukan cara memproduksi suara yaitu dari cekungan semacam buah labu yang dipukul dengan tongkat atau dengan ditiup. Setelah memperhalus bunyi-bunyi tersebut mereka mulai mengkombinasikan nada-nada dan ritme dengan berbagai cara sehingga lahirlah seni musik.

Namun pada tahap tersebut seni musik masih jauh dari pengertian musik serius atau musik sebagai seni murni (fine art) karena masih dipenuhi dengan dorongan-dorongan emosi primitif. Selama kurang lebih 2000 tahun, para musisi memperhalus elemen-elemen musik, mengembangkan dan mengorganisasikan ke dalam struktur yang lebih kompleks. Dengan suatu kekuatan mendramatisasi suasana maka tercapailah kondisi musik serius seperti yang kita dengar saat ini (Barry, 1965).

Bila kita perhatikan dugaan proses lahirnya seni musik tersebut, maka secara keseluruhan memiliki kemiripan dengan teori evolusi kebudayaan Morgan, bahwa masyarakat manusia berevolusi melalui tiga tahap perkembangan. Pada tingkat pertama yang berlangsung sebelum penemuan tembikar, yaitu pada saat ditemukannya api, musik masih sangat sederhana. Pada saat itu, di samping musik dihasilkan melalui penggunaan tubuh mereka sendiri sebagai instrumen, juga dengan memukul benda-benda. Setelah busur panah ditemukan timbullah ide untuk mengembangkan alat musik berdawai. Di samping itu timbul pula ide untuk membuat musik pengiring upacara ritual sebelum berburu yang gerakan-gerakannya menirukan tingkah laku binatang-binatang.

Pada jaman Barbar, saat manusia menemukan keramik, yang disusul dengan awal dari ketrampilan beternak dan bertani, berkembanglah musik pengiring orang bekerja dan juga pengiring ritual syukuran, misalnya saat panen. Karena pada masa ini orang sudah pandai membuat logam maka dibuatlah alat-alat musik perkusi seperti gong, gamelan, dan sebagainya. Ketika memasuki tahap sivilisasi, manusia mulai mengenal tulisan sehingga tumbuhlah ide untuk menotasikan dan mempublikasikan musik. Dengan demikian terjadilah interaksi yang baik di antara konsep dan praktik musik. Sejak itu musik klasik mengalami perkembangan yang intensif hingga mencapai puncaknya dan menjadi berbeda setelah melewati abad ke-20.

Sumber-sumber tertulis baik dalam bentuk catatan-catatan, notasi musik, maupun teori musik, merupakan bahan primer dalam penyusunan sejarah musik. Sementara itu relief-relief yang terukir pada dinding gua­gua dan kuburan-kuburan merupakan data-data sekunder. Data-data musikal mengenai musik tertua di Eropa ialah musik Yunani, sementara itu di Timur ialah Mezopotamia (kira-kra tahun 3000 SM), sedangkan di Asia ialah Cina dan India. Musik klasik (non tradisional) yang kita kenal sekarang berawal dari Eropa abad ke-6 SM. Sebelum masa itu Eropa juga menggunakan lat-alat musik yang sama dengan yang ada di Timur dan Asia, yaitu alat musik petik atau berdawai.

Ide-ide teoretis bangsa-bangsa di luar Eropa pada beberapa abad sebelumnya merupakan warisan yang berharga, namun karena terikat oleh tradisi maka musik serius atau klasik dan juga instrumen-instrumen mereka tidak berkembang terlalu jauh dari aslinya. Walaupun demikian sementara kebudayaan musik di Eropa cenderung sejalan atau menyatu karena antara satu bangsa dengan bangsa yang lainnya senantiasa berinteraksi, musik-musik non Eropa memiliki varian yang sangat kaya. Kini idiom-idiom musik tersebut menjadi daya tarik para komponis klasik sebagai bahan komposisi dan penyelidikan ilmuwan-ilmuwan musik.

Walaupun juga tidak terhindar dari keterkaitannya dengan kepercayaan terhadap hal-hal mistis, bangsa Eropa berusaha melepaskan diri dari tradisi yang mengikatnya bahkan mungkin juga keyakinan agamanya. Sehubungan dengan itu, dengan konsep pemikiran rasional mereka memformulasikan dan mengembangkan konsep-konsep dasar teori musik. Penemuan-penemuan dalam bidang teori musik kemudian dikembangkan oleh para musisi, maka dengan adanya interaksi di antara penemuan teori musik dan pembuatan musik maka evolusipun terjadi secara bertahap.

2.2. Teori Awal Sistem Diatonik

Saat ini kita mengenal berbagai sistem musik yang diterapkan pada kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Sistem yang paling mendasar pada musik ialah tanga nada atau skala nada (tone scale). Pada kebudayaan-kebudayaan Timur umumnya yang digunakan ialah skala pentatonik (penta = lima; tonik = nada), yaitu sistem skala yang terdiri dari lima nada sedangkan dalam kebudayaan Barat ialah diatonik (dia = tujuh) yaitu skala tujuh nada. Evolusi awal sistem diatonik meliputi pembahasan konsep bilangan Pythagoras dan pengembangannya, formulasi skala nada mayor dan minor, solusi terts Pythagoras dalam alat musik dan komposisi musik.

2.2.1. Konsep Bilangan Pythagoras

Teori yang berkaitan dengan interval skala diatonik tumbuh bersamaan dengan kelahiran filsafat Barat pada abad ke-6 SM. Bangsa Yunani pada masa itu memiliki keunggulan yang seimbang pada banyak bidang. Konsep dasar estetika mereka ialah keselarasan dan keseimbangan sehingga dalam kesenian mereka terdapat rasionalitas yang unggul (Bertens 1075, 22).

Pythagoras mengawali penemuannya tentang interval melalui eksperimennya pada monochord, sebuah alat musik kuno berdawai yang ditala, yang dengan media tersebut ia merumuskan interval oktaf, kwint dan kwart, dengan cara membagi-bagi dawai secara proporsional. Interval pertama atau prime diperoleh dengan membagi dawai-dawai tersebut menjadi dua bagian atau dengan perbandingan 1:2. Interval kwint diperoleh dengan membagi dawai menjadi tiga bagian, atau 2:3, dan kwart menjadi empat bagian atau 3:4 (Beardsley, 1966, 27-28). Dengan rangkaian enam buah kwint maka tersusunah skala diatonik dengan dua interval sekonde kecil (semi tone) dengan istilah Latin limma, dan sekonde besar dengan istilah Tonus (Sadie 1980, Vol. 15, 486).

(GAMBAR DIHILANGKAN)

Lingkaran Kwint dan jarak nada Limma dan Tonus

Keempat bilangan pertama pada perbandingan Pythagoras berperan dalam menghasilkan bilangan 10 dalam suatu segitiga yang disebut tetraktys:

(GAMBAR DIHILANGKAN) 

Tetraktys menyatakan bahwa nada-nada musikal merupakan gejala fisis yang dikuasai oleh hukum matematis. Oleh karena itu suatu realitas dapat dicocokkan dengan kategori-kategori matematis dari rasio manusia. Pythagoras berpendapat bahwa nada-nada musikal dapat dijabarkan ke dalam perbandingan antara bilangan-bilangan sehingga dari hal tersebut ia menarik kesimpulan bahwa segala sesuatu adalah bilangan merupakan unsur yang terdapat dalam segala sesuatu.

Prinsip bilangan adalah ganjil dan genap, terbatas dan tak terbatas. Oktaf adalah harmoni yang dihasilkan dengan menggabungkan hal yang berlawanan yaitu 1 dan 2. Demikian juga dengan seluruh alam semesta merupakan suatu harmoni yang merupakan hal-hal yang berlawanan (Beardsley 1966). Ajaran Pythagoras ini tampaknya sejalan dengan konsep keindahan Socrates yang ditulis oleh Plato dalam symposium. Dengan demikian Pythagoras memiliki pandangan yang bertentangan dengan konsep Anaximandros tentang alam bahwa kosmos seluruhnya terdiri dari hal yang berlawanan.

2.2.2. Penyesuaian Interval Pythagoras

Secara bertahap seiring dengan perkembangan musik, orang mulai merasa janggal dengan interval terts besar Pythagoras, hal tersebut dirasakan karena dalam praktiknya orang sudah cenderung menggunakan trinada pokok seperti yang kita kenal saat ini yaitu Tonika (akor pertama), Dominan (akor kelima) dan Sub Dominan (akor keempat). Pada masa Pythagoras kejanggalan seperti itu belum begitu dirasakan karena pada waktu itu musik yang berkembang dalam masyarakat hanya terdiri dari satu suara (monophony), sehingga tidak membutuhkan trinada atau akor.

Kalau formasi teoretis tentang skala murni merupakan reaksi terhadap sistem Pythagoras, maka hal tersebut seiring pula dengan perkembangan konsep estetik yang bereaksi terhadap pandangan estetik 3 tokoh Yunani (Sokrates, Plato, Aristoteles). Aliran filsafat yang berkembang pada saat itu disebut ”Neoplatonisme” yang dicetuskan oleh Marsilio Ficino (1433-1499) yang merupakan penerjemah Plotinus dan karya lengkap Plato pertama dalam bahasa Latin. Filsafat Ficino merupakan gabungan ide-ide, daya tarik ide-ide tersebut adalah keindahan yang merupakan hasrat cinta.

Daya tarik suatu keindahan ditemukan dalam harmoni yang tersusun dari elemen-elemen seperti kebaikan-kebaikan jiwa, warna-warna serta garis-garis pada benda yang tampak, dan dari bunyi music (Beardsley, 1966). Filsuf lain yang semasa dengan Ficino ialah Leon Battista Alberti (1409-1472), ia mendefinisikan keindahan lebih merupakan suatu tingkatan harmoni tertentu daripada harmoni sebagai syarat keindahan.

Kedua filsuf tersebut menyimpulkan bahwa keindahan berkaitan erat dengan harmoni yang terbentuk dari elemen-elemen, dan keindahan merupakan tingkatan tertentu dari harmoni. Demikian juga dengan perkembangan musik, harmoni yang tadinya diartikan sebagai interval-interval melodis yang terbentuk dari angka ganjil dan genap, pada abad ke-15 diartikan sebagai gabungan dari beberapa interval yang dibunyikan secara simultan, jadi pemikiran estetik pada masa itu sejalan dengan perkembangan musik.

Walaupun terts murni pertamakali diformulasikan Bartolomeo Ramos de Pareia (1440-1491) di Spanyol, gejalanya telah tampak sejak masa Yunani, yaitu pada tetrachord. Archytas (427-374 SM) dan Erastosthenes (280-195 SM), tapi masih berada dalam tetrachord enharmonis. Interval terst murni baru tampak pada tetrachord diatonon Dymus (lahir tahun 63 SM) yang intervalnya sama dengan tangga minor. Kemudian interval tersebut dijumpai dalam tetrachord diatonon syntonon dari Ptolemaios (100-180 M).

Untuk memenuhi tuntutan tersebut, terts Pythagoras harus diganti dengan ”terts murni”, yaitu interval yang dihasilkan dengan menurunkan 1 Koma Dydimus pada ketiga trinada pokok. Dalam ilmu akustika musik interval Dydimus tersebut dikenal dengan istilah syntonische komma (Riemann 1967, 409-414).

(GAMBAR DIHILANGKAN) 

Penyesuaian Perbandingan Pythagoras

Dengan demikian keberadaan terts murni yang memiliki perbandingan 5/4 sebagaimana tertulis dalam tabel di atas, merupakan tingkat perbandingan kelima, yaitu kelanjutan dari tetraktys Pythagoras. Penyesuaian tersebut telah menghasilkan tangga nada murni yaitu yangga nada Pythagoras yang telah mengalami perubahan pada nada ketiga, keenam, dan ketujuh (mi, la, dan si). Jika kedua tagga nada tersebut, yaitu tangga nada murni dan tangga nada Pythagoras dibandingkan maka perbedaannya akan tampak sebagai berikut:

Hasil penurunan terts Pythagoras kemudian dirumuskan ke dalam tangga nada mayor oleh Ramos de Pareia dan dituangkan ke dalam bukunya Music Practica (Bologna, 1482). Ia sebenarnya hanya meneruskan sistem Pythagoras hingga yang keenam. Sehubungan dengan itu sitem Pareiea dikenal dengan sebutan senarius (Sadie, Op. 15, 576-577).

2.3. Formulasi Interval Pythagoras

Reaksi terhadap formulasi Pareia ternyata baru ada setelah hampir satu abad kemudian, yaitu dari Gioseffo Zarlino (1517-1590) di Italia. Dengan berpedoman kepada Pareia dan juga ahli teori musik Yunani terakhir yaitu Ptolemaios, Zarlina mengembangkan sistem pembagian senarius.

Dalam bukunya Le Institutioni Harmoniche (Venice,1558) Zarlino meletakkan landasan yang kokoh tentang susunan tangganada mayor dan minor. Di samping menolak terts Pythagoras ia juga menentang tangganada hexachord dari Guido Aretinius von d’Arezo (sekitar tahun1050) yang menolak nada ’si’, karena dengan tidak adanya nada tersebut maka tidak bisa dibentuk akor atau trinada dominan. Dalam menyusun sebuah tangganada Guido d’Arezzo menggabungkan dua tetrachord yang sama secara bersambung untuk menghindari interval tritonus yang ditimbulkan oleh nada ke-7 (si), sehingga tangganada hanya terdiri enam nada (do, re,mi, fa, sol, la).

Zarlino menyusun tangganada mayor dan minor dengan menggunakan media yang serupa seperti yang dilakukan oleh Pythagoras yaitu menggunakan perbandingan panjang–pendeknya dawai, tetapi ia melakukannya dengan cara yang berbeda. Tangganada mayor diperolehnya dengan melakukan pembagian harmonis dengan cara membagi senar hingga pembagian yang keenam.

Sedangkan untuk memperoleh tangganada minor, ia melakukan penyusunan aritmatik yang juga berhenti pada urutan keenam. Pertama ia menentukan unit terkecil dari panjang dawai, kemudian dikalikan secara bertingkat:

 (GAMBAR DIHILANGKAN)

Susunan Aritmatis

Dari kedua cara yang dilakukan Zarlino tersebut dapat dimaklumi bahwa tangganada mayor adalah kebalikan dari tangganada minor. Para ahli sebelumnya beranggapan bahwa kedua tangganada tersebut masing-masing berdiri sendiri.

Pada abad ke-17 berikutnya, sistem pembagian dawai sudah tidak digunakan lagi. Jadi, dalam menyusun tangganada maupun harmoni para ahli menggunakan deretan nada ”alam”. Teori pertama tentang nada-nada ”alam” dikemukakan oleh Marin Mersene dalam Hamonie Universelle (Paris,1636-37), seorang filsuf yang juga ahli fisika.

Para ahli teori musik di abad ke-20 berselisih pendapat tentang penemu overtone-series. Umumnya mereka menduga bahwa penemunya adalah Joseph Sauveur, seorang ahli fisika dalam Memoires de L’Academie Royale des Sciences (Paris,1701). Namun, pendapat tersebut ditentang oleh Dr. Helmut Ludwig bahwa Marin Mersene telah menemukan overtone-series secara tuntas dan mendemonstrasikannya pada dawai-dawai rendah dari alat musik lute dengan frekuensi 1:2:3:4:5. Jadi, Joseph Sauveur hanya melanjutkan saja dengan pembuktian secara fisika.

Zaman Zarlino dan Mersena mungkin jarang disebut dalam sejarah musik, karena kedua tokoh tersebut tidak berkaitan secara langsung dengan karya-karya musik. Namun demikian, dalam sejarah estetika kedua ahli tersebut dikenal sebagai pemikir estetik untuk periode Renaisans yang banyak berbicara tentang musik dan puisi.

Penemuan kedua ahli musik musik dan juga fisika tersebut kemudian diformulasikan ke dalam teori musik yang merupakan dasar¬dasar pengembangan teori musik di abad-abad berikutnya, oleh Jean Philippe Rameau (1683-1764) dalam Traite de L’Harmonie (Paris,1722) ia menerapkan penemuan overtone-series ke dalam ilmu harmoni sehingga sekarang orang menyebutnya sebagai ”Bapak Harmoni”. Ia menjelaskan bahwa semua musik dapat disusun oleh harmoni dari prinsip-prinsip alami: ”Rameau maintained that all music is founded on harmony, which arises from natural principles derived from the mathematical and physical bases of a vibrating body (corp sonore)”. Dengan dasar penemuan Zarlino yang mengadopsi perhitungan matematis senario dan penggunaan metodologi empiris Descrates, ia berpendapat bahwa kesatuan harmoni yang esensial, terwakili dalam bunyi dasar (foundamental sound).

2.4. Solusi Interval Pythagoras dalam Alat Musik dan Komposisi

Penyelesaian persoalan terts Pythagores secara teori juga diikuti dengan usaha penyelesaian dalam alat-alat musik yang memiliki nada-nada tetap sperti spinet, clavicimbel, dan harpsichord.

Persoalan pertama timbul karena dalam beberapa hal sistem Pythagoras bertentangan dengan sistem murni. Oleh karena itu penyelesaian dilakukan dengan melalui dua tahap. Kompromi tahap pertama, ditujukan agar pada alat-alat tersebut diadakan penalaan yang menghasilkan tangganada yang dapat memainkan sistem murni, sedangkan sisanya menjadi sumbang. Oleh karena itu modulasi hanya dapat dilakukan secara terbatas.

Kompromi tahap ini dipelopori oleh Arnold Schlick dalam Spiegel der Orgel Macher und Organiste (Mainz,1577). Sistem penalaan yang dipeloporinya dikenal dengan istilah Mittelton-Temperatur, caranya adalah dengan membagi perbedaan kedua terts menjadi empat. Terts Pythagoras yang lebih tinggi satu syntonische komma dari terts murni tersebut dihasilkan dengan cara merangkaitkan empat kwint Pythagoras, maka setiap seperempat syntonische komma tersebut ditambahkan kepada keempat kwint yang membentuknya.

Setelah perkembangan musik semakin maju orang mulai menuntut kompromi tahap berikutnya, karena kemudian musik menuntut modulasi yang lebih banyak. Kompromi tahap akhir ini diperoleh oleh Johann George Neithardt dalam Erschopfte, Mathematische Abtheiklungen der Diatonische-Chromatischen, Temperirten Canonis Monochordi (Berlin,1732). Adapun sistemnya disebut Wohl Temperierte Stimung, kali ini masalah pertentangan kedua terts dapat diselesaikan dengan membagi oktaf menjadi 12 nada yang interval di antara nada¬nadanya memiliki jarak yang sama besar.

Penyelesaian masalah terts Pythagoras pada instrumen¬instrumen yang bernada tetap rupanya telah mendapat reaksi dari komposer jenius periode Barok, J.S. Bach (1685-1750). Ia menciptakan karya musik untuk klavier (piano) dengan menggunakan seluruh kapasitas modulasi dati penalaan tersebut, yang kemudian ditulis dalam sebuah buku berjudul Das Wohl Temperierte Klavier. Buku tersebut berisi rangkaian Prelude dan Fugue yang disusun dalam 12 kunci mayor dan 12 kunci minor sehingga jumlah seluruh karya tersebut adalah 24 buah. Kurang lebih 20 tahun kemudian ia menulis seri kedua dengan struktur sama.

Karena teraturnya perkembangan musik serius sejak awal abad Masehi hingga akhir abad ke-19, maka para ahli sejarah kebudayaan menjadikan peristiwa tersebut sebagai objek kajian khusus yaitu dalam bidang sejarah musik. Para ahli sejarah musik sepakat dalam pembangian periodisasi sejarah musik ke dalam batasan fase-fase tertentu yaitu: Late Medieval (1400-1450 M), Renaissance (1450-1600), Baroque (1600-1725), Rococo (1725-1775), Classicism (1775-1825), Romanticism (1810-1870), Post-Romanticism (1870-1925), Modern (1900-1950).

Periode-periode tersebut didasarkan atas perubahan-perubahan mendasar baik dari segi konsep, alat musik, maupun gaya musik. Ciri-ciri perubahan setiap periode ditandai oleh individualisme seorang komposer sebagai pelopor yang berusaha keluar dari norma-norma yang secara membudaya disepakati oleh masyarakat musik setiap periode yang bersangkutan. Ciri lain yang mendasar ialah perubahan-perubahan tersebut hingga akhir periode Romantik berpijak di atas konsep dasar teoritis yang diformulasikan oleh Rameau.

Kristalisasi bentuk musik terjadi pada masa Klasik, sehingga gaya komposisi yang berkembang dipengaruhi oleh bentuk musik. Kebanyakan komposisinya dicipta untuk permainan instrumental. Bentuk yang didasari oleh prinsil ilmu harmoni yang kokoh telah melahirkan “bentuk sonata klasik”. Istilah “bentuk” tersebut kemudian diterapkan dalam ensambel-ensambel musik kamat seperti duet, trio, kuartet, konserto, simfoni, dll.

Periode Romantik lebih didominasi oleh emosional, dalam hal ini bentuk hanya merupakan wadah, jadi yang penting ialah emosi. Harmoni mulai agak menyimpang dan bergerak bebas mengikuti emosi. Periode ini sebenarnya merupakan bagian dari reaksi kultural yang menyeluruh dari peristiwa Revolusi Perancis.

Pada masa Post-Romantik, orkestra mengalami perluasan. Gaya nasionalisme mulai dikembangkan di berbagai negara. Di Perancis mulai tumbuh aliran impresionisme yang dipelopori oleh Ravel dan Debussy. Gaya musik Debussy di antaranya terpengaruh oleh musik tradisional Bali. Dalam gaya musiknya salah satu ‘kaki’-nya masih berada dalam kerangka tonalitas dan ‘kaki’ yang lainnya mulai memasuki era Modern, dengan konsep whole tone yang diilhami musik Bali, ia keluar dari konsep konvensional.

Di era Modern musik serius non-tradisional mulai menyebar luas ke berbagai negara baik di Amerika maupun Asia, asumsi orang tidak lagi menganggap musik ini sebagai musik Eropa, karena berbagai unsur¬unsur di luar norma-norma lama mulai bisa dilibatkaan dalam musik serius non-tradisional. Musik serius non-tradisional mulai lepas landas, konsep Rameau sudah dianggap usang.

Sementara musik serius non-tradisional sudah tinggal landas, konsep tonal masih diterapkan secara sangat sederhana pada musik hiburang non-tradisional. Walaupun para senimannya berusaha untuk berontak dan keluar dari norma-norma tersebut, akhir mereka kembali menyederhanakan kembali karena bila tidak akan kehilangan pasar.

Dari uraian dalam makalah ini dapat kita lihat bahwa konsep teori evolusi kebudayaan masih relevan untuk hal-hal tertentu, jadi walaupun sejak akhir abad ke-19 telah bermunculan teori-teori mutakhir, konsep ini masih perlu dipertimbangkan oleh para peneliti di bidang kebudayaan. Hal lain yang bisa disimpulkan ialah bahwa musik serius non-tradisional mempunyai garis evolusi tersendiri jadi tidak bisa dianalogikan dengan perkembangan musik tradisional yang hingga kini masih hidup.

Musik serius ini pada mulanya memiliki kecenderungan yang sama dengan musik-musik lainnya di luar Eropa, tetapi karena sejak awal masa peradaban, musik dikembangkan secara teoritis maka sejak itulah ia mengambil jalur yang terpisah dengan musik tradisional, sebab sementara musik serius memakai “jalan tol”, musik tradisi Eropa hingga kini masih tetap dalam bentuk aslinya.

Dari segi yang lain jika melihat perkembangan terakhir musik serius tersebut, kita bisa mengatakan bahwa musik yang ada sebelum periode modern menjadi tradisional sebagai lawan pengertian modern. Tetapi jika mengacau pada pengertian ciri-ciri masyarakat “tradisional” dan “modern”, jelas hal tersebut tidak relevan, sebagai salah-satu contoh adalah bahwa musik serius modern sejak awal perkembangannya selalu dicetuskan oleh individu, sementara musik tradisional oleh kelompok. Contoh lain dapat kita jumpai dari bentuk fisik instrumen.

Sumber: Muttaqin, dkk. 2008. Seni Musik Klasik. Jakarta: Depdiknas.

Download file Pdf Here (Lengkap Text dan Gambar)

Posted on July 18, 2012, in Music. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: